Reaktor Nuklir Ciptaan Tuhan

September 28, 2009

Oleh: Kirana Yuniati Putri

Tuhan membangun reaktor nuklir?? Lelucon apa ini? Mungkin itulah yang ada di kepala anda ketika membaca judul di atas. Namun ini bukan lelucon. Benar adanya bahwa Tuhan telah membangun suatu reaktor nuklir, meskipun tidak dalam artian harfiah. Di waktu yang telah lama berlalu, pernah terdapat suatu sistem reaksi (reaktor) nuklir yang bekerja secara natural, alami, tanpa campur tangan manusia, sehingga bisa dikatakan bahwa reaktor ini diciptakan dan bekerja atas kehendak Tuhan. Bagaimana mungkin? Nah, marilah kita ikuti kisahnya berikut ini.

Ada tiga isotop uranium yang terjadi secara alami, bernomor massa 234, 235, dan 238, namun kelimpahan isotop 234 dapat diabaikan. Pada awal terbentuknya bumi, 235U dan 238U memiliki suatu nilai rasio tertentu. Rasio ini berubah secara signifikan seiring berjalannya waktu karena kedua isotop tersebut meluruh dengan umur paro yang berbeda. Umur paro 235U 700 juta tahun, sedangkan 238U memiliki umur paro 4,5 miliar tahun. Sehingga, jumlah 235U berkurang lebih cepat. Setiap isotop memiliki umur paro sama, di manapun ia berada, sehingga derajat perubahan rasio isotop akan sama selama miliaran tahun. Hingga 1972, rasio 235U dalam bijih uranium selalu ditemukan sebesar 0,7202%.

Pada awal 1956, Dr. Paul Kuroda dari Universitas Arkansas mencetuskan pemikiran mengenai adanya  suatu reaktor alam di masa lampau. Dua miliar tahun lalu, kelimpahan 235U dalam uranium alam diperkirakan mencapai 3%. Konsentrasi ini biasa digunakan dalam Light Water Reactor (PWR),  suatu tipe reaktor nuklir dengan moderator air ringan (H2O). Sehingga suatu reaktor alam mungkin beroperasi dengan bahan bakar uranium alam ini serta moderator air biasa.

Pada pertengahan 1972, seorang insinyur Perancis bernama Bougzigues menemukan suatu anomali pada sampel uranium yang berasal dari tambang uranium di Oklo, Gabon. Bougzigues menemukan bahwa rasio isotop 235U dalam bijih uranium sebesar  0,7171%. Meskipun perbedaan ini cukup kecil, namun para ahli tertarik untuk meneliti lebih lanjut. Mereka terkejut ketika menemukan sampel yang memiliki kelimpahan hanya 0,621%; 0,44%; bahkan 0,292%.

Gabon

sumber: US DoE

Read the rest of this entry »


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.